Langsung ke konten utama

belajar dari IP Man

semalam menonton sebuah film berjudul IP MAN..
ada yang menarik bagi saya dari film ini..
ketika guru IP mengajarkan kung fu kepada sekelompok pekerja di sebuah perusahaan, mereka menggunakan setiap kesempatan untuk berlatih -- ketika bekerja pun, mereka berusaha mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari -- mungkin itu bertujuan untuk membuat mereka mahir menggunakan setiap gerakan dan ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari sehingga ketika serangan datang secara tiba-tiba, mereka dapat menggunakan ilmu mereka dengan tepat untuk menghalau musuh.

hal ini ini mengajariku tentang firman Tuhan yang ku pelajari tiap-tiap hari melalui saat teduh, atau melalui PA, KTB, dll.. harusnya firman Tuhan yang sudah dipelajari itu dapat digunakan dalam setiap waktu dalam hidup kita.. dalam keseharian kita, ketika melakukan berbagai tugas dan tanggungjawab, firman Tuhan seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan,,, bahkan itu yang mengontrol dan mengendalikan setiap tindakan kita..


menggunakan firman Tuhan setiap hari akan melatih otot-otot iman..
ketika cobaan datang menerpa, firman Tuhan dapat menjadi perisai kita..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kok Masih Single?

Dari skala 0-10, seberapa greget  kamu dengan pertanyaan ini? (0 sangat tidak greget , 10 sangat amat greget ) :D sila dijawab sendiri .. ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜… Photo by Alex Blฤƒjan on Unsplash Yup, pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan yang umumnya bikin greget hingga greget bingizt,  dihindari, dan atau dikategorikan sebagai pertanyaan yang sensitif. Sebagian besar orang beranggapan bahwa status dalam berelasi merupakan ranah pribadi bagi mereka, sehingga tampak kurang sopan jika mencoba membahas hal tersebut. Karena itu, menanggapi pertanyaan ini juga muncul beragam respons yang menurut hemat saya, kadang kala bukan untuk menjawab pertanyaannya, tetapi lebih kepada “menghindar” a.k.a ngeles. Namun, tujuannya bisa dipahami juga sih, yaitu supaya tidak dibahas lebih lanjut, dan mungkin ada juga yang ingin memberikan “efek jerah” kepada orang-orang yang menanyakan hal tersebut. Well , apapun motif di balik respons yang diberikan, bukan itu yang ingin saya bahas. saya juga tidak sedang ...

Si Kecil di Mata Allah yang Maha Besar.

Suatu hari, dalam kapel pagi di kampus, Liturgos membuka ibadah pagi dengan meminta kami yang hadir untuk menutup mata dan membayangkan suasana di Aula. Selanjutnya, kami diminta untuk membayangkan diri berada di lantai tertinggi di kampus dan mengamati orang-orang yang ada di Aula meskipun mulai kurang nampak. Semakin lama, Liturgos meminta kami untuk membayangkan posisi yang semakin tinggi dan makin jauh dari Aula, bahkan membayangkan hingga seolah-olah kami sedang berada di luar angkasa. Kemudian Liturgos mengakhiri aktivitas ini dengan menyatakan bahwa kita tentu tidak bisa lagi melihat orang-orang yang ada di Aula karena sudah terlalu jauh, bahkan bumi yang besar ini pun hanya akan terlihat seperti titik yang kecil dari luar angkasa. Anehnya, kita yang kecil dan bahkan tak kelihatan di semesta ini, sungguh dicintai dan dikasihi oleh Allah yang Maha Besar. Aktivitas dalam kapel tersebut mencoba untuk menghadirkan kesadaran di dalam diri kami yang hadir pada saat itu, akan ...

Single is a gift

“ Single life may be only a stage of a life’s journey, but even a stage is a gift. God may replace it with another gift, but the receiver accepts His gifts with thanksgiving. This gift for this day. The life of faith is lived one day at a time, and it has to be lived—not always looked forward to as though the “real” living were around the next corner. It is today for which we are responsible. God still owns tomorrow . ” — Elisabeth Elliot, Let Me Be A Woman via http://seulghi.tumblr.com/